Dalam
sebuah pembelajaran, banyak sekali alasan yang dipakai siswa sebagai acuan
untuk menghalalkan segala cara agar mereka bisa lolos dari hal yang mereka
anggap sebagai beban. Namun, sesungguhnya alasan-alasan itulah yang akan
menjadikan bumerang yang hanya akan menambah beban bagi mereka sendiri. Dan cara-cara
tersebut terlahir dengan nama ketidak jujuran, yang selanjutnya melahirkan
anakan-anakan seperti mencontek, copy paste, dan lebih banyak lagi. Dan hebatnya
lagi bisa dipastikan di setiap jenjang pendidikan dari mulai SD sampai
Perguruan Tinggi terdapat proses kecurangan yang terjadi.
Sebenanya
setiap orang dimanapun itu mempunyai potensi kecurangan, tetapi lebih menarik
lagi untuk dibahas jika bentuk-bentuk ketidak jujuran itu tercipta di tempat yang
mana seharusnya dapat menjadikan manusia-manusia yang terikat didalamnya
menjadi manusia yang berpendidikan dengan kejujuran yang baik.
Tidak beda di Indonesia, di luar negeri pun juga ada praktik kecurangan.
Dalam jurnal yang berjudul “Does
Academic Dishonesty Relate to Unethical Behavior in Professional Practice? An
Exploratory Study” disebutkan bahwa hasil penelitian, tindak kecurangan
dengan presentase terbesar adalah dari bidang akademis khususnya di jenjang
teratas, Perguruan Tinggi. Dan lebih spesifik lagi mahasiswa fakultas tehnik
yang menjadi juara pertama dalam ajang ini yang disusul dengan mahasiswa dari
jurusan bisnis.
Menurut
analisis saya, mengapa mereka melakukan praktik kecurangan dalam bidang yang
seharusnya mereka kuasai, jawabannya antara lain.
1.Nilai yang baik
Tidak dapat dipungkiri,
setiap siswa maupun mahasiswa ingin memiliki nilai yang baik, selain mendapat
prestige dari orang-orang disekitarnya, pastilah orang tua juga memberikan
penghargaan tersendiri jika anaknya memperoleh nilai yang baik. Mereka biasanya
melaksanakan misi ini dengan mencontek, menjiplak, atau bahkan menjadi
plagiaris. Mereka lebih mementingkan nilai daripada proses.
2.Cepat menyelesaikan
tugas
Jika siswa yang sudah
terbiasa berbuat curang, maka akan sulit sekali menghilangkan kebiasaan itu. Terkadang
anak muda jaman sekarang ingin segala sesuatunya serba praktis sehingga waktu
sisa pembuatan tugas dapat digunakan seluas-luasnya untuk bersantai dan
bermain. Mereka sering menngunakan cara copy-paste untuk mengerjakan tugas
secara cepat tanpa berpikir panjang.
3.Gampang mendapatkan
yang diinginkan
Semua orang pastilah ingin
jika semua yang diinginkan bisa tercapai, salah satunya kesuksesan dalam
menggapai kelulusan dalam pendidikannya. Mereka akan berpendapat bahwa jika
dengan cara mudah mereka dapat mendapat yang diinginkan, mengapa harus
mencari-cari hal yang lama, susah dan membosankan? Dengan menyuruh orang
membantu membuatkan skripsi atau laporan-laporan atau tugas-tugas yang lain,
mereka dapat cepat terbantu mempercepat mendapatkan kelulusan. Selain itu,
untuk mendapatkan pekerjaan pun mereka juga akan menggunakan cara yang gampang
yang mungkin juga akan mendapatkan pekerjaan yang diinginkan melalui itu.
4.Terdesak
Satu lagi alasan mengapa
siswa melakukan kecurangan dibidang akademis karena alasan bahwa mereka
terdesak. Karena memang situasi yang memungkinkan untuk berbuat kecurangan. Alasan
mereka adalah, jika manusia berada dalam keadaan terdesak, maka sagala bentuk
kenekatan akan terjadi. Mereka terdesak karena memang mereka tidak mampu lagi
untuk berpikir mencari penyelesaian masalah yang berhubungan dengan pendidikan
mereka. Mereka dapat menggunakan berbagai macam cara agar mereka merasa aman
dan lega.
Namun,
bukan berarti jika mereka bisa mendapatkan segala sesuatunya dengan mudah maka
akan mudah pula hidupnya. Nanti, pada suatu saat ketika dia benar-benar
membutuhkan pengetahuan yang seharusnya dimiliki dengan hasil akhir yang
lumayan baik maka dia hanya akan mendapatkan masalah baru. Karena dalam
kenyataannya dia tidak memperoleh apapun saat masa pendidikan. Dia hanya
mementingkan hasilnya, bukan proses.
Kedepannya,
di Indonesia akan lahir generasi penipu yang akan menghancurkan negara kita tercinta
secara perlahan. Karena jabatan-jabatan diduduki manusia-manusia yang tidak
mahir di bidang tersebut. Maka, kita tinggal menunggu kehancurannya saja.
Sebenarnya
apakah hati nurani kita akan rela jika bangsa ini kelak akan hancur hanya
gara-gara hal yang sebenarnya tidak penting? Menurut saya, praktik kecurangan
itu bukannya membuat orang sukses dan mendapat prestige, tetapi malah
menjatuhkan harga dirinya yang tadinya manusia yang mulia. Orang yang berbuat
kecurangan hanyalah menutupi kelemahan dirinya
yang seharusnya bisa dikembangkan menjadi potensi yang lebih berguna,
tetapi malah sibuk menutupi kekurangan-kekurangan itu.
Maka,
apakah kita rela bangsa kita akan binasa? Apakah kita rela masa depan kita menjadi
lebih samar? Apakah kita rela menjatuhkan harga diri kita? Jawaban ada ditangan
kita. Katakanlah pada dunia bahwa kita bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar