Laman

Rabu, 16 November 2011

Kejujuran untuk Kita (Review jurnal “Does Academic Dishonesty Relate to Unethical Behavior in Professional Practice? An Exploratory Study”)


Dalam sebuah pembelajaran, banyak sekali alasan yang dipakai siswa sebagai acuan untuk menghalalkan segala cara agar mereka bisa lolos dari hal yang mereka anggap sebagai beban. Namun, sesungguhnya alasan-alasan itulah yang akan menjadikan bumerang yang hanya akan menambah beban bagi mereka sendiri. Dan cara-cara tersebut terlahir dengan nama ketidak jujuran, yang selanjutnya melahirkan anakan-anakan seperti mencontek, copy paste, dan lebih banyak lagi. Dan hebatnya lagi bisa dipastikan di setiap jenjang pendidikan dari mulai SD sampai Perguruan Tinggi terdapat proses kecurangan yang terjadi.

Sebenanya setiap orang dimanapun itu mempunyai potensi kecurangan, tetapi lebih menarik lagi untuk dibahas jika bentuk-bentuk ketidak jujuran itu tercipta di tempat yang mana seharusnya dapat menjadikan manusia-manusia yang terikat didalamnya menjadi manusia yang berpendidikan dengan kejujuran yang baik.
Tidak beda di Indonesia, di luar negeri pun juga ada praktik kecurangan. Dalam jurnal yang berjudul “Does Academic Dishonesty Relate to Unethical Behavior in Professional Practice? An Exploratory Study” disebutkan bahwa hasil penelitian, tindak kecurangan dengan presentase terbesar adalah dari bidang akademis khususnya di jenjang teratas, Perguruan Tinggi. Dan lebih spesifik lagi mahasiswa fakultas tehnik yang menjadi juara pertama dalam ajang ini yang disusul dengan mahasiswa dari jurusan bisnis.
Menurut analisis saya, mengapa mereka melakukan praktik kecurangan dalam bidang yang seharusnya mereka kuasai, jawabannya antara lain.
     1.Nilai yang baik
Tidak dapat dipungkiri, setiap siswa maupun mahasiswa ingin memiliki nilai yang baik, selain mendapat prestige dari orang-orang disekitarnya, pastilah orang tua juga memberikan penghargaan tersendiri jika anaknya memperoleh nilai yang baik. Mereka biasanya melaksanakan misi ini dengan mencontek, menjiplak, atau bahkan menjadi plagiaris. Mereka lebih mementingkan nilai daripada proses.
     2.Cepat menyelesaikan tugas
Jika siswa yang sudah terbiasa berbuat curang, maka akan sulit sekali menghilangkan kebiasaan itu. Terkadang anak muda jaman sekarang ingin segala sesuatunya serba praktis sehingga waktu sisa pembuatan tugas dapat digunakan seluas-luasnya untuk bersantai dan bermain. Mereka sering menngunakan cara copy-paste untuk mengerjakan tugas secara cepat tanpa berpikir panjang.
     3.Gampang mendapatkan yang diinginkan
Semua orang pastilah ingin jika semua yang diinginkan bisa tercapai, salah satunya kesuksesan dalam menggapai kelulusan dalam pendidikannya. Mereka akan berpendapat bahwa jika dengan cara mudah mereka dapat mendapat yang diinginkan, mengapa harus mencari-cari hal yang lama, susah dan membosankan? Dengan menyuruh orang membantu membuatkan skripsi atau laporan-laporan atau tugas-tugas yang lain, mereka dapat cepat terbantu mempercepat mendapatkan kelulusan. Selain itu, untuk mendapatkan pekerjaan pun mereka juga akan menggunakan cara yang gampang yang mungkin juga akan mendapatkan pekerjaan yang diinginkan melalui itu.
     4.Terdesak
Satu lagi alasan mengapa siswa melakukan kecurangan dibidang akademis karena alasan bahwa mereka terdesak. Karena memang situasi yang memungkinkan untuk berbuat kecurangan. Alasan mereka adalah, jika manusia berada dalam keadaan terdesak, maka sagala bentuk kenekatan akan terjadi. Mereka terdesak karena memang mereka tidak mampu lagi untuk berpikir mencari penyelesaian masalah yang berhubungan dengan pendidikan mereka. Mereka dapat menggunakan berbagai macam cara agar mereka merasa aman dan lega.
Namun, bukan berarti jika mereka bisa mendapatkan segala sesuatunya dengan mudah maka akan mudah pula hidupnya. Nanti, pada suatu saat ketika dia benar-benar membutuhkan pengetahuan yang seharusnya dimiliki dengan hasil akhir yang lumayan baik maka dia hanya akan mendapatkan masalah baru. Karena dalam kenyataannya dia tidak memperoleh apapun saat masa pendidikan. Dia hanya mementingkan hasilnya, bukan proses.
Kedepannya, di Indonesia akan lahir generasi penipu yang akan menghancurkan negara kita tercinta secara perlahan. Karena jabatan-jabatan diduduki manusia-manusia yang tidak mahir di bidang tersebut. Maka, kita tinggal menunggu kehancurannya saja.
Sebenarnya apakah hati nurani kita akan rela jika bangsa ini kelak akan hancur hanya gara-gara hal yang sebenarnya tidak penting? Menurut saya, praktik kecurangan itu bukannya membuat orang sukses dan mendapat prestige, tetapi malah menjatuhkan harga dirinya yang tadinya manusia yang mulia. Orang yang berbuat kecurangan hanyalah menutupi kelemahan dirinya  yang seharusnya bisa dikembangkan menjadi potensi yang lebih berguna, tetapi malah sibuk menutupi kekurangan-kekurangan itu.
Maka, apakah kita rela bangsa kita akan binasa? Apakah kita rela masa depan kita menjadi lebih samar? Apakah kita rela menjatuhkan harga diri kita? Jawaban ada ditangan kita. Katakanlah pada dunia bahwa kita bisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar