Jaka Tarub
by Nisa Ikhsan
“ Heh mas, kalo jalan liat-liat dong. Masa ibu-ibu dah
tua di tabrak. Kasian tuh ibunya kesakitan. Nggak minta maaf lagi. Main
ngeloyor aja.” Kata Vivi yang marah-marah pada seorang laki-laki yang terlihat
terburu-buru.
“ Maaf ya.. nggak sengaja.” Sambil lalu orang itu
membalas dengan setengah berteriak.
“Assalamu’alaikum, dah lama nunggu ya. Siapa kamu Vi? Ibumu?” sapa Sari
pada sahabatnya yang sedang membantu ibu-ibu yang jatuh tadi.
“ Terimakasih ya nak. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya
padamu. Assalamu’alaikum.” kata ibu tua itu sebelum beliau pergi.
“Amiin. Wa’alaikumsalam warahmatullah.” Ucap Sari dan
Vivi hampir bersamaan.
“ Oh iya Ri, Wa’alaikumsalam warahmatullah. Sampai lupa
mbales salam. Tadi ibu itu di tabrak mas-mas nggak jelas. Trus masnya tak omelin, sampai sekarang ku masih jengkel sama masnya itu…” akhirnya Vivi menyambut kedatangan
sahabatnya juga. Tapi masih bernada sinis.
“ Udah… ah, kok jadi aku yang diomelin.”
“ Abisnya nggak
sopan banget sih! Temen-temen yang lain mana? Kok nggak kelihatan? Tadi kan
pulang sekolah bareng!” ya.. tadi mereka pulang lebih awal karena gurunya ada
urusan bersama.
“ Ada, dibelakang. Kita masuk dulu yuk. Kita milih-milih
kerudung ja dulu. Biar mereka nyusul.”
Merekapun berjalan masuk ke dalam supermarket itu. Ya
biar nggak dikirain patung selamat datang gara-gara dari tadi kelamaan nunggu
di pintu depan. Mereka lalu naik ke lantai dua yang khusus menyediakan berbagai
macam pakaian. Rencananya sih mereka mau beli baju buat pergi ke walimatul
‘ursy guru ngajinya. Kalo uangnya cukup sih langsung beli, kalo nggak ya paling
nabung dulu. Maklumlah anak sekolah. Untung aja walimahnya masih ahad, jadi
bisa ngurangi uang jajan dulu selama 3
hari.
Mereka sudah mulai asik memilih kerudung. Sari mencoba
kerudung segi empat. Dan Vivi tak kalah heboh. Hampir semua kerudung langsung
pakai yang digantung ia turunkan. Mau cobain semua katanya. Sampai petugasnya
geleng-geleng kepala. Mau dikembaliin petugasnya keatas selalu dia cegah. Toh
sedang sepi pengunjung ujarnya dalam hati.
Kemudian Risa, saudara kembar Sari datang. Bersama Riska
si jilbaber berkaca mata yang selalu serius. Dia
adalah kutu buku yang punya perpustakaan sendiri dirumahnya.
Wina jilbaber yang suka makan. Mau jadi presenter acara kuliner katanya. Nina
yang doyan banget difoto dan memfoto, juga ahli banget menggambar, mungkin mau
jadi ahli grafis. Dan yang terakhir Tami, jilbaber yang jago nulis. Karyanya
sudah sering nongkrong di majalah-majalah islam. Mulai dari puisi, artikel,
sampai cerpen semuanya pernah tampil. Oh iya lupa, si kembar hobi masak, kata
mereka sih mau bareng bareng buka restoran. Ke enam teman Vivi sudah merasa
menemukan jati dirinya. Sudah punya planning masa depan. Namun, Vivi merasa bahwa dirinya biasa-biasa saja
malah masih bingung.
“ Assalamu’alikum..Maaf ya lama, tadi susah cari tempat
parkir, pada penuh. Tapi kok disini sepi ya!” kata Nina yang ngos-ngosan karena
lari naik eskalator.
“ Wa’alaikumsalam
Warahmatullah.” Jawab teman yang lain hampir
serempak.
“ Dah yuk, keburu siang nih… aku mau cepet nyelesein
cerpen ku.” Samber Tami.
*******
“ Aku beli ini aja
deh, mirip nggak warnanya sama baju aku yang ku beli awal bulan lalu?” Tanya
Tami minta pendapat teman-temannya. Dia terbukti cepat banget milihnya. Karena
memang buru-buru.
“ Cantik, tapi
kayaknya terlalu ngejreng. Ungunya yang agak tuaan dikit. Kamu nggak beli baju
mi? trus kenapa ungu, kan warna janda?” tanggap Vivi yang dari tadi masih
memilih kerudung.
“ Ye… kalau ungu kan nggak mesti yang pakek tu janda.
Bajunya aku besok-besok aja ah, cerpenku yang kemaren belum ada tanggapan. Jadi
kantongku masih tipis deh.” Tami mulai memilih lagi dan akhirnya, semua
temannya mengangguk setuju dengan kerudung pilihannya. “ Eh, vi kamu pilih
gamis dan kerudung warna merah? Sok berani..!”
“ Biar ah… tapi, nggak terlalu ngejreng kan. Kerudungnya
juga lumayan enak tak pakek! Longgar lagi.” Bela Vivi dengan antusias.
“ Bagus mbak yu… Eh,kamu belum tau ya mi, Vivi
tu bukan sok berani, tadi aja Vivi berani mbela ibu-ibu yang ditubruk laki-laki nggak
dikenal lho…” sela Sari.
“ Ah.. yang bener Vi? Biasanya bekalmu tak makan ja nggak
marah.” Saut Wina yang dari tadi diam menikmati snacknya sambil pilih-pilih baju yang longgar karena kebanyakan
pada nggak muat.
“ Ih.. iya. Aneh! Biasanya correction pen, yang
seminggu habis 3 botol karena jadi giliran temen-temen sekelas ja nggak marah.”
Riska yang dari tadi naruh kerudung di pundaknya sambil baca bukupun ikut
anggkat bicara.
“ Lagi dapet kali tuh…” tanggap Nina sambil action dan minta di foto Risa dengan
mengenakan setelan yang dicobanya.
“ Perubahan kali, kan mbelain yang bener.” Risa
ikut-ikutan sok bijak.
“ Biasa aja kali! Kerudungmu kayaknya terlalu pendek deh
Nin.” Jawab Vivi mengalihkan pembicaraan.
“ Kayaknya juga gitu. Kekecilan, agak kecekik leherku.
Entar dulu ya.” Nina melepas baju yang dicobanya… “ Dah beres…”
“ Kalo udah semua, ayo cepet pulang!” Tamipun mulai tidak
sabar pengen pulang.
Akhirnya, setelah hampir satu jam mereka memilih baju, sudah kelar juga. Tami hanya memilih kerudung ungu tadi. Vivi sudah memantapkan hati untuk memilih gamis
dan kerudung merah hati. Si kembar memilih model yang sama yaitu gamis kotak-kotak.
Sari pakai warna kuning dengan garis biru, kerudungnya biru polos. Kalo
adiknya, Risa pakai warna biru garis kuning dan kerudung kuning polos. Wina
pakai setelan rok dan kerudung warna nila, katanya keinget rasa nila bakarnya
pak Glinding. Si gadis kaca mata ambil warna hijau. Dan Nina pilih warna
jingga, tapi yang warnanya nggak terlalu mencolok.
Mereka bertujuh
mulai berbenah membawa pakaian yang mau dibeli mereka ke kasir. Vivi meletakkan
kerudungnya dulu di meja dekat situ. Bermaksud mau mengambil uang ditasnya.
“Ayo dik, cepat pulang. Dah ditunggu abi di bawah. Ini
kerudungnya di kembaliin aja ya?” kerudung Vivi di rebut laki laki muda yang
umurnya hampir sebaya.
“Eh..eh..mas, ini kan kerudung yang mau saya beli. Kok
dibawa? Mungkin punya adik mas yang itu !” tanggap Vivi dengan cepat.
“Eh ‘afwan ya
dik, keliru. Kirain kerudung yang diambil adik saya.” Vivi lalu berlari
mengejar teman-temannya.
Cukup menyebalkan juga sih, dalam hari dan lokasi yang
sama ada dua laki-laki yang aneh.
“Ceileh… Vivi, masa’ ada tujuh orang, yang diambil
kerudungnya cuma punya Vivi. Jaka Tarubnya ikhwan kelas tiga lagi! Tadi tuh
bener lagi Vi, kalo kamu dipanggil dik. Adik ketemu gede.” Nina mulai menggoda Vivi.
“ Apa? Jaka Tarub? Sok Bidadari aja. Ayo! Aku dah ada
janji nih!” Vivi menyangkal dengan ketus.
“ Suit-suit… baru ketemu aja udah janjian.” Nina seperti
nggak mau candaan itu berakhir.
“ Nanti kalo suka, tak bantu ngomong deh… kalo mau
ta’aruf nanti tak temenin. Siapa tau jodoh.” Riska pun juga ikut andil.
“ Apaan sih… kenal aja nggak. Ngaco aja kalo ngomong. Toh
aku nggak buat janji sama dia kok. Aku janji sama ibu mau pulang sebelum
dzuhur.”
“ Nanti mau pulkam (pulang kampung) Vi? Nanti barengan
ya?” rumah Riska memang nggak terlalu jauh dari rumah Vivi
“Ya
Insya Allah…”
“ Masa’ sih Vi… nggak kenal? Mas Ramdan nggak kenal? Aku kira… semua
murid satu sekolah pada kenal. Dia kan murid teladan di sekolah
kita. Setiap semester pasti dapet
beasiswa. Dia juga sering shalat dhuha ke masjid
sekolah. Kita kan dah satu tahun lebih sekolah bareng.” Tanggap Tami heran.
“ Sebagai anak IPS Vi, seharusnya kita lebih bisa
bersosialisasi dengan masyarakat sekolah. Ditambah lagi kita semua berjilbab,
jadi harus bisa jadi contoh yang baik buat temen-temen kita yang lain. Kelak
kita kan juga harus dan wajib berdakwah. Nah, kalau nggak bersosialisasi,
gimana kita mau ikut berbaur. Habluminannaass juga penting kan?..” Risa tanggap
dengan bijaknya. Tumben serius, biasanya aja selengekan terus.
“ Udah lah, emang aku harus tau semuanya? Ayo cepet,
nggak malu apa diliatin petugasnya?”tanggap Vivi sambil berjalan menuju kasir.
Sementara keempat teman Vivi terheran-heran, Riska sambil
baca buku hanya tersenyum simpul. Tak jelas senyum karena aneh atau senyum
karena apa yang ia baca. Belanjaan mereka di jadiin satu,uangnya juga sudah
dijadiin satu. Masing-masing sudah menghitung berapa biaya yang dikeluarkan.
Tak heran kalau seperti tengkulak yang mau dijual lagi bajunya. Banyak
banget!!! Kemudian, suasana menjadi hening kembali. Mereka diam menunggu kerja
sang kasir.
*******
Bruk… kasurnya hampir mau ambruk. Kalau Wina yang seperti
itu mungkin akan jadi rusak beneran kasurnya. Untung bukan Wina tapi Vivi. Dia
senyum-senyum sendirian. Hatinya sedang berbunga-bunga. Dia membuka jendela
kamarnya. Semerbak harum bunga-bungapun berebut masuk.
Hatinya sedang meledak sekarang. Dia langsung meraih
laptopnya. Dia ingin ceritakan semua rasa senangnya. ‘Jaka Tarub’ kata yang
tertulis pertama, indah dan besar, ukuran 48. Satu halaman hanya terisi kata
itu. Tak tau maksudnya. Yang tau hanya dia dan Tuhannya. Bahasanya terlalu
indah sehingga sulit dirubah menjadi kata-kata.
Wajahnya tersenyum tenggelam dalam tidurnya. Ada rona
kepuasan tersirat disana. Aneh…
“Subhanallah…alhamdulillahi ahyana ba’dama amatana
wailaihinnusuur.” Pujian itu khusus dipersembahkan untuk Tuhannya tercinta
setelah dia bangun dari tidurnya. Sepertinya dia mimpi indah meski tidurnya
baru sekitar 7 menit.
Dia melihat laptopnya masih menyala. Di sisi kanan bawah
tertulis low battery. Dia mencolokkan
carger ke laptop hitam itu. Tulisan
itu masih ada. Dibawah tulisan ‘Jaka Tarub’ dia menuliskan ‘ Kulihat kau keluar
dari rumah di ujung kompleks rumahku. Dekat warung kelontong saat ku hendak
membeli gula disitu. Kau keluar dengan senyum memesona menyapaku bersama adik
kecilmu. Dan kau ucap maaf karena telah mengambil kerudungku.’
Sepertinya itulah isi mimpinya tadi. Kemudian ibunya
memanggilnya untuk shalat jamaah dzuhur bersama ayahnya yang baru datang dari
kantornya.
Setelah usai, ibunya menyuruh Vivi membeli sirup
kewarung. Ada tamu yang mau datang kata beliau. Vivi berangkat dengan berjalan
kaki. Hanya sekitar 250 meter jarak rumah ke warung.
Sampai di warung seorang lelaki yang hampir sebaya
dengannya datang. “Assalamu’alaikum, mau beli apa dik? ‘Afwan ya tadi mboten
sengaja.” Dia adalan kak Ramdan.
“ Mau tumbas1 sirup. Kalau njenengan2?”
“ Mau tumbas
jajanan buat adik.”
“ Monggo… tumbas napa3?” sela ibu-ibu pemilik warung.
“ Niki bu’, bade
tumbas sirup, pinten nggih4?”
“ Rongpuluh ewu5.” Sementara itu, Ramdan masih sibuk memilih snack.
“ Inggih. Satunggal
mawon ingkang raosipun kokopandan6.”
“ Mpun bu’,
sedanten pinten7?”
“ Telung
ewu wae nang8!” ibu itu
menunggu. “Sediluk ya nduk9!”
“Inggih10!”
“ Meniko nggih bu’,
pareng…11
Assalamu’alaikum!” Ramdan pun tersenyum pada Vivi.
“Wa’alaikumussalam
Warahmatullah.” Jawaban Vivi lirih tapi tidak
mendayu.
Saat sang penjual mencarikan sirup yang hendak dibeli
Vivi, diam-diam dia mengamati lelaki itu.
Ternyata Ramdan masuk kerumah Riska. ‘Siapanya Riska ya. Masak sih pacarnya? Tadi aja nawarin mau dikenalin. Huh… apa
urusannya juga sama aku. Nggak ngaruh kali sama hidupku. Tapi kalau beneran
pacaran harus di nasehati biar nggak kebablasan.’ Gumamnya dalam hati.
“ Iki nduk12.” Suara ibu penjual itu mengagetkan lamunannya.
“Oh ingggih bu’,
meniko artonipun. Pareng…13 Assalmu’alaikum.” Dia meninggalkan warung kelontong itu.
Dari kejauhan terlihat ibu itu tersenyum membalas salam itu dalam hati.
Rasa penasaran Vivi sudah tak terbendung lagi. Dia belok
kerumah Riska. Disana dia mendapati Mas Ramdan sedang menemani main adik Riska,
si Rana. Mereka terlihat mesra.
Mas Ramdan melempar senyum padanya. Serasa ada hembusan
angin segar menerpa. Vivi hanya bilang kalo dia mau ketemu sama Riska. Tapi
kalo Riska udah dateng, tinggal bingung ja mau ngomong apa. Karena tujuannya
mau nyelidiki siapa mas Ramdan.
Selagi pembantunya memanggil Riska, Vivi mengamati mereka
berdua sambil memikirkan apa yang harus dia katakan didepan sahabatnya itu.
“ Assalamu’alaikum, ada apa ukh…? Riska datang
menghampiri.
“ Wa’alaikumsalam warahmatullah. Oh iya Ris, catatan
ekonomimu tak pinjem ya? Mau tak salin.” Untung bisa njawab. Dalam hati dia
bersyukur.
“ Sebentar ya…” Vivi kembali mengamati mereka berdua
dengan curiga. Sebenarnya siapanya Riska? Masak sih pacar.”
“ Ini Vi.”
“ Oh… iya, ya, ya!” Riska memutus lamunannya. Dia
membuka-buka buku bersampul hijau muda itu. “ Lusa ada ulangan bab ini kan
ukh…?”
“ Astagfirullah… iya aku lupa. Untung diingetin. Syukron ya ukh.” Padahal kalo dia nggak buka bukunya Riska, Vivi
juga nggak bakalan inget.
“ Aku pinjem dulu ya… nanti sebelum magrib tak
kembaliin.”
“ Iya… jangan lupa ya…”
“ Insya Allah… makasih ya ukh. Mau pulang dulu, keburu
ditunggu ibu. Assalamu’alaikum… ayo Rana… main kerumah kakak?”
“ Wa’alaikumsalam…” Jawab mereka bertiga serempak. Rana
hanya membalas lambaian tangan. Nampaknya Rana sudah tau kalau Vivi tak mungkin
mengajaknya main.
Vivi pulang dengan mempercepat langkah. Dia ingin segera
melengkapi catatan ekonominya sebelum magrib tiba. Dia sudah tidak
memperdulikan Mas Ramdan lagi, dia sudah mengambil kesimpulan bahwa ada
hubungan yang istimewa diantara Mas Ramdan dengan Riska.
*******
“Ris, anti inget ga bagian ayat di Al-Qur’an yang bunyinya ‘Lataqrabuzzina’, jangan
mendekati zina? Udah jelas-jelas nyata ditulis, masak banyak orang yang main mata,
mencintai lawan jenisnya sampai-sampai hampir gila. Bahkan secara
terang-terangan mengumumkan bahwa dirinya berpacaran. Gimana sih…” Vivi mencoba
menyindir Riska yang sedang membaca buku di waktu istirahat.
“ Inget Vi…
sekarang itu kan udah era globalisasi. Mana sempet orang-orang baca Al-Qur’an.
Jangan samakan semua orang denganmu. Kalau semua orang sepertimu, tidak ada
orang yang mau jadi polisi. Karena pasti nggak dapet job. Semua orang pasti memiliki prinsip hidupnya masing-masing.
Mereka akan merasa mengikuti perkembangan jaman kalau sudah melakukan itu
semua.” Tanggap Riska santai
seperti tanpa rasa beban. Sedangkan Vivi semakin mantap bahwa temannya
benar-benar pacaran. Vivi meninggalkan sahabatnya kembali berkonsentrasi membaca.
‘ Lapy… dia bukanlah Jaka Tarubku, Jaka Tarub itu sudah menentukan
pilihannya. Sungguh, dari peristiwa di supermarket itu aku mulai berani
mencintai laki-laki. Meskipun bukan untuk dijadikan pacar, setidaknya dapat
diharapkan untuk menjadi imam ketika aku siap nantinya. Tapi sekarang dia sudah punya pacar. Aku tidak mau pendampingku nanti pria
yang sudah pernah pacaran. Sudah lah… Mungkin Riska benar, setiap orang
memiliki prinsip masing-masing.
Lagian, ngapain juga mengharap sesuatu yang belum pasti jadi milikku. Aku juga tidak bisa melarangnya untuk dekat dan tidak berpacaran dengan mas Ramdan. Tapi, aku hanya berharap sahabatku tidak
terjebak dalam kemaksiatan.’
Kata-kata itu tertulis runtut di laptopnya. Ruang kelas
itu masih sepi. Ke lima sahabatnya tak tampak batang hidungnya. Biasanya sudah
berhamburan dengan segala pengalamannya. Mungkin pada ke
kantin. Teman-teman kelasnya semua keluar kelas. Hanya
tinggal Riska dan Vivi di pojok kelas. Laptopnya pun ditutup setelah satu
persatu temannya masuk kelas.
Tangannya
terasa hangat. Ada sentuhan lembut tangan Riska yang tiba-tiba duduk
disampingnya. “Vi, Ramdan itu kakak aku. Memang dia nggak tinggal di rumahku.
Karena dia tinggal bersama kakek nenekku. Toh mana mungkin aku sekonyol itu
menyerahkan harga diriku untuk seorang laki-laki. Aku juga ingin sepertimu,
mendapatkan ikhwan yang yang belum pernah pacaran. Aku nggak mungkin mengharap
ikhwan yang benar-benar belum pacaran sedangkan aku sendiri melakukannya.”
Ternyata tidak sengaja Riska membaca apa yang ditulis Vivi di laptopnya.
Mereka
saling memeluk erat. “ ‘Afwan ya Ris.
Aku sudah berburuk sangka. Berarti semboyan kita bertujuh masih dong?.”
“Teteeep…”
“Semboyan
apaan nih?” teman-teman yang lain nimbrung. “ Oh itu…”
“ Say no to the man, and say yes to Ikhwan.
But… in the right time.” Senyum mereka masih tersungging sampai guru mareka
memasuki ruang kelas.
1
Beli
2
Anda
3
Silakan… mau beli apa?
4
Ini bu’ mau beli sirup, berapa ya?
5
Dua puluh ribu.
6
Iya. Satu saja yang rasanya kokopandan
7
Sudah bu, semuanya berapa?
8
Tiga ribu saja nak.
9
Sebentar ya nak.
10
Iya
11
Ini ya bu, permisi.
12
Ini nak.
13
Oh! Iya bu, ini uangnya. Permisi…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar