MALAM BERDARAH
by Nisa Ikhsan
by Nisa Ikhsan
“ Pak, semuanya sudah siap pak. Kapan jenazahnya akan
datang?” suara dari seberang telepon itu terdengar jelas di persidangan yang
tenang.
“ Sebentar lagi sepertinya. Tunggu saja Min! sekarang
masih ada di rumah sakit, mungkin 10 menit lagi diberangkatkan dari sana.” Pak
lurahpun menutup teleponnya karena sidang akan di mulai.
Para warga yang mengikuti jalannya sidang duduk penuh
kecaman. Dan yang ada didepan sana Arista Putri Zahrana, putri ta’mir masjid
agung Wonosari. Mereka semakin membenci orang yang berkerudung, karena Rana
berkerudung besar dengan memakai kaus kaki pakaiannya juga sangat longgar. Sangat
tidak umum seperti mereka memang. Berbagai macam ejekan terlontarkan oleh para
warga. Ada yang menuduh bahwa kerudung besarnya hanya untuk menutupi
kejelekannya. Ada yang memperolokkan bapaknya yang ahli agama itu tidak bisa
mendidik anak. Masih banyak lagi hujatan yang Rana terima. Keluarganya hanya
menunduk di kursi paling depan.
“ Tolong tenang dulu warga sekalian. Sidang akan segera
dimulai.” Pak lurah mulai angkat bicara.
Semuanyapun tenang. Neni, tetangga dekat Rana menjawab
pertanyaan hakim dengan tegas. “ Disini saya mengatakan yang saya tahu saja.
Meskipun saya teman dekat terdakwa dari kecil, tetapi saya lebih memilih
mengatakan yang sebenar-benarnya. Yang saya tahu Rana baru datang ke desa kami
kemarin saat kejadian. Awalnya Rana dan kami para warga biasa saja. Hanya agak
heran melihat pak Parman salah satu tokoh masyarakat desa kami mencegah untuk
dibongkarnya rumah yang berada sebelah jalan tersebut. Padahal pak Lurah sudah
diberi izin pemilik tanah untuk dijadikan jalan raya. Kata pemiliknya biar yang
punya rumah menggeser rumahnya agak ke belakang pekarangan. Toh tanah itu bukan
milik pak Bandi orang yang punya rumah itu.
Setelah itu, warga nekat membongkar rumah itu. Meskipun dengan
berbagai pertimbangan, pak Parman sebagai orang yang dihormati warga berujar
untuk menunggu yang punya rumah dulu. Dan ternyata ditemukan beberapa jenazah
di bawah lantai rumah itu. Secara sepintas mereka adalah keluarga pak Bandi
yang mana salah satu jenazahnya adalah seorang bayi yang masih sangat kecil.
Yang diketahui para warga, pak Bandi belum mempunyai anak meskipun istrinya
sedang hamil. Ya, kami pikir bayi itu dibunuh setelah dilahirkan. Namun, Arista
Nadya Syahputri,kakak Rana malah
bertanya setengah berteriak pada Rana dimana bayi Rana dikuburkan. Kami tidak
tahu apa yang dia maksud. Dan Rana langsung terlihat Shock dan pingsan.
Akhirnya para warga menuduh Rana sebagai pelaku pembunuhan keluarga itu. Itu
saja, terimakasih.” Hati Rana teriris, bagaimana bisa warga menuduhnya sebagai
pembunuh.
Kemudian semua mata tertuju pada Irsyad. Termasuk Rana
yang menatap penuh harap untuk diberi simpati dari suami yang baru menikahinya
satu setengah tahun yang lalu itu. “ Saya tidak tahu persis masalah ini.
Seminggu yang lalu saya berada di makasar. Ketika itu saya ditelepon pembantu
saya bahwa Rana sudah melahirkan, tetapi bayinya meninggal. Katanya, Rana
berpesan untuk tidak memberitahukan pada siapa-siapa dulu terutama Ibu. Dia
baru memberi tahu kakak perempuannya katanya. Dia takut nanti Ibu malah sakit
karena Ibu memang menderita gejala stroke.
Terlepas dari itu, katanya pembantu saya akan memakamkan
anak itu bersama rekan ngaji sekaligus tetangga saya di Kalimantan sana.
Katanya Rana juga berpesan untuk tidak usah pulang jika keadaan tidak
memungkinkan. Rana akan ke jawa saja, dan saat saya sudah tidak ada kerjaan,
saya diminta menyusulnya. Tiga hari yang lalu saya di sms Rana kalau dia sudah
sampai Bandara dan sedang perjalanan dari Yogya. Ternyata saya sampai duluan.
Setelah tengah malam, Rana baru datang dengan tubuh menggigil dengan membawa
seorang bayi. Pembantu kami tidak ikut karena pulang ke desanya yang berjarak
sekitar 50 km dari sini. Dalam keadaan seperti itu Rana saya tanyai kenapa dia
menggigil dan siapa bayi itu. Saya tetap memaksa dia menjawab karena dikatakan
bahwa bayi yang dulu dia kandung telah meninggal. Namun, Rana tiba-tiba tidak
sadarkan diri selama 2 hari. Setelah siuman saya tidak berani bertanya lagi.
Dan ibu sudah terlanjur menganggap bahwa bayi itu cucunya. Rana juga tidak segan
memberikan asinya pada bayi itu.
Pada saat ada penggusuran rumah itu Rana tiba-tiba
kembali menggigil saat melihat ada jenazah-jenazah itu. Saya semakin tidak
mempercayai istri saya saat terlontar pertanyaan dari kak
Nadya seperti yang dikatakan saudari saksi tadi. Kemudian,
Rana kembali tidak sadarkan diri. Hanya itu yang saya tahu.” Irsyad tidak
sedikitpun menoleh pada istrinya. Sepertinya ia sudah teramat benci dengannya. Semua
warga bahkan suaminya sendiri sudah
tidak mempercayainya. Air mata Rana pun meleleh. Kemudian semuanya menjadi
gelap dan Rana pingsan.
“Baiklah, sidang kita lanjutkan minggu depan dengan
pembantu saudara irsyad sebagai saksi. Saya mohon bantuan saudara Irsyad untuk
menghadirkan saksi.” Sidang terpaksa ditunda.
********
Setelah Rana sembuh, dia ditahan dan anaknya di asuh oleh
ibunya. Setiap malam ia terbangun memohon pada Allah untuk dimudahkan
urusannya. Dia memutuskan untuk tegar dan menjaga dirinya agar tidak mudah
shock. Meskipun dia hanya sendiri. Meskipun orang-orang di luar sana tidak lagi
mempercayainya. Dia merasa Allah tetap sayang padanya meskipun banyak kesalahan
yang ia perbuat.
Lima hari sudah ia lewati waktu dibalik jeruji besi yang
dingin dengan penuh keangkuhan itu. Matanya merah karena sering menangis dan
tidak dapat tidur di tempat yang over kapasitas. Apalagi
rasa sakit sehabis melahirkan dulu masih terasa. Sangat miris ketika tak satupun anggota keluarganya datang. Hanya
pembantunya yang satu kali pernah menjenguknya dan mendengar cerita dari
Zahrana. “ Bi, besok hadir ya. Kasih tahu cerita yang sebenarnya.”
“Iya mbak, Insya Allah. Bibi, juga turut prihatin. Yang tabah ya mbak. Jangan
pernah takut untuk menegakkan kebenaran. Jangan takut jika memang mbak Rana
merasa benar.”
“Makasih ya bi.” Rana mengusap air mata dan kembali ke
tempat yang mengerikan itu. Namun, dia masih bersyukur pernah bertemu
pembantunya itu, dan masih diperbolehkan mengenakan jilbab panjangnya.
Waktu seakan semakin bergulir menjauh. Besok adalah hari
penentuan akan dikemanakan ia. Apakah akan pulang ke rumah berkumpul dengan
keluarga ataukah kembali bersama para tangan kanan setan di balik deretan besi dingin. Namun yang pasti dia
ingin selalu bersama Allah. Andaikan waktu dapat diputar ulang, yang mana ia
tidak mengambil bayi orang lain dan anaknya tidak meninggal. Pastilah tidak
akan seperti ini kejadiannya. Namun, hal itu telah terlanjur. Ia sekarang harus
berjuang mengembalikan nama baik keluarganya.
Meskipun dengan banyak air mata yang akan terkuras.
‘Kamu hendaknya bersyukur masih diberikan cobaan dari
Allah. Berarti Allah masih sayang padamu Na. Jangan pernah menghayal dan
mengandai-andai Na. hal itu hanya akan membuatmu lemah dan menandakan bahwa
kamu takabur dan tidak pernah bersyukur.’ Ujar wanita muda itu dalam hati. Meski sekarang terlihat
lusuh dan agak menua. Sedikit mengurangi beban dihatinya.
Esok harinya wajahnya lebih cerah karena akan bertemu
dengan keluarganya yang dia cintai. Orang tuanya hadir bersama sang anak. Kakak
dan suaminya pun ikut menghadiri. Namun wajah mereka tak secerah Rana. Ia
dekati keluarganya dan ia berkata pada suaminya dengan halus. “ Terima kasih ya
mas sudah hadir.” Tersungging senyum di mulut keringnya.
“ Tenang saja Rana, saya akan membantu kamu membersihkan
nama baik keluargamu terutama orang tuamu, karena mereka sudah ku anggap
sebagai orang tua kandung ku sendiri. Saya hanya menemani mereka. Setelah
mereka baik-baik saja, saya akan segera pergi kok.” Jawab Irsyad ketus.
Benar-benar mencacah hati. Suaminya bahkan ingin dia lenyap dari muka bumi. Air
matanya meleleh dan ia pergi ke tempatnya. Sidang pun mulai berjalan.
“ Baik saudara Irsyad. Apakah anda mengetahui lebih lanjut
tentang perkara ini? Adakah keterkaitan kejadian ini dengan orang tua tersangka?”
hakim mulai menanyai saksi.
“ Tidak pak Hakim. Jangan mengaitkan kejadian ini dengan
orang tua tersangka. Mereka tidak tahu menahu tentang hal ini. Dan
masing-masing orang harusnyalah menanggung sendiri-sendiri apa yang diperbuat. Disini
saya hanya membawa barang bukti baju yang istri saya kenakan saat ia pulang
pada malam hari itu. Mungkin ini adalah bukti yang cukup menguatkan. Dan maaf,
pembantu saya tidak dapat hadir karena sakit, dia bilang cukup saya yang
menjadi saksi.” Dia lalu menunjukkan baju yang berlumuran darah yang mana
darahnya sudah mengering itu. Rana sangat terkejut dan sesak
memenuhi seluruh ruang hatinya.
“ Baiklah saudara tersangka. Apakah anda hendak memberi
pembelaan?”
“ Maaf pak, saya
tidak bisa mengatakan apapun.” Tangisnya tertahan di tenggorokan. Dia sudah tak
mampu mengatakan apapun.
“ Baiklah. Diputuskan bahwa saudari Arista Putri Zahrana
bersalah. Terdakwa di jatuhi hukuman mati karena telah menghilangkan nyawa
banyak orang. Eksekusi akan dijalankan 13 hari lagi.” Palupun diketok. Tidak
ada yang bisa memungkirinya. Para warga yang hadir bersorak.
******
Ditengah malam yang begitu sunyi dia sudah di dobrak para
polisi. Hari ini adalah hari dia akan dieksekusi mati. Ya, hal itu masih lebih
sopan dari pada perlakuan yang ia terima hari hari sebelumnya yang hampir
merenggut kesuciannya. Untungnya dia pernah berlatih ilmu bela diri. Meskipun
hari meninggalnya lebih istimewa dibanding dengan manusia lainnya karena
kematiannya ditentukan oleh manusia, dia masih bersyukur hijabnya masih
terjaga. Walaupun ia dianggap hina, namun ia ingin mati dalam keadaan suci.
“ Apa permintaan terakhirmu sebelum pukul lima nanti?”
salah satu polisi berkata dingin.
“ Apakah masih ada harapan untuk dipenuhinya permintaan
saya.” Jawab Rana tak bersemangat.
“ Mungkin saja.”
“ Baiklah, antar saya kerumah. Saya ingin sungkem sama
orang tua saya. Dan saya akan menunjukkan sesuatu pada kalian semua. Dan saya
membolehkan banyak polisi mengawal saya agar tidak kabur, tetapi saya tidak
memperbolehkan kalian menyentuhku.”
“ Akan kami pertimbangkan.”
“ Saya ingin segera dilaksanakan. Dan harusnya sekarang.”
Akhirnya dengan berbagai pertimbangan mereka setuju untuk
mengantarkannya kerumah orang tuanya. Sampai tempat yang dituju sudah adzan
subuh. Setelah diperkenankan masuk oleh Irsyad meskipun didahului dengan
pertentangan terlebih dahulu akhirnya Rana meminta izin untuk shalat subuh.
“Mas, saya ingin, mungkin untuk yang terakhir kalinya untuk shalat berjamaah dengan
mas. Saya berharap mas tidak menolaknya.” Irsyad hanya mengangguk. Rana
mengikuti Irsyad sampai ke tempat wudhu. Diikuti beberapa polwan yang
mengawalnya.
Ketika Rana hendak membuka kerudung untuk berwudhu
suaminya berkata. “ Rana.”
“ Iya suamiku.”
“ Jangan membuka kerudung disini. Kamu bukan mahramku
sekarang. Kamu sudah kutalak.” Rana berlari ke kamar mandi untuk berwudhu.
Matanya merah dan meneteskan air mata.
Mereka berdua telah menunaikan shalat subuh. Sudah lama
mereka tidak berjamaah. Satu lagi yang berbeda dia tidak lagi mencium tangan
irsyad karena dia bukan lagi istrinya. Setelah sungkeman pada orang tuanya dia
mengambil tas di almarinya. Tas kecil berwarna hijau tua yang dibelikan mantan
suaminya dengan gaji pertama mantan suaminya itu.
“ Baiklah, saya akan segera pergi. Jaga diri kalian
baik-baik ya. Jaga pula Aida dengan baik meskipun dia bukan anak saya.” Rana
mencium anak yang baru memiliki nama baru itu. Aida, tangguh. Dengan harapan
anak itu akan kuat menghadapi segala cobaan. Ya dia sudah menjadi anak susunya
karena dia sudah memberikan asinya lebih dari 3 kali hingga anak itu kenyang.
Semua orang di rumah itu meneteskan air mata.
Diperjalanan kembali ke tempat eksekusi Rana berbicara
pada polwan di sampinya. “Bu, pokoknya saya harus mengajukan banding. Saya akan
membawa ini sebagai bukti.”
“ Hal ini susah anak muda. Kenapa sebelum ditetapkannya
hukuman anda tidak meminta banding?”
“ Saya terlalu terpukul dengan sikap keluarga saya pada
saya.”
“ Tapi, dalam waktu 12 hari itu kenapa juga tidak meminta
banding? Malah akan dilaksanakannya hukuman, anda baru memintanya.”
“ Saya kira tidak ada lagi kesempatan untuk saya.
Tolonglah bu, kalau bisa nanti dimulai sidangnya. Ini menyangkut hidup dan mati
saya dan nama baik berbagai pihak karena saya tahu berita ini sudah menyebar
keman-mana.”
“ Baiklah, saya akan meminta suami saya untuk menggelar
persidangan lagi untuk anda nanti siang.”
“Terima kasih bu.” Hatinya bertasbih menyucikan nama
Allah.
*****
“ Silahkan saudari Arista Putri Zahrana jika ingin
menyampaikan pembelaannya.” Hakim itupun akhirnya memberi kesempatan pada Rana.
Sepi orang memang, karena tidak ada yang tahu ada persidangan itu. Hanya
beberapa wartawan hadir.
“ Disini saya tidak ingin membela diri saya. Hanya ingin
meluruskan salah paham ini. Saya ingin memperbaiki nama baik orang islam dan
orang tua saya. Sebenarnya memang benar seperti yang diceritakan suami saya
bahwa saya melahirkan beberapa hari yang lalu di Kalimantan. Saya sudah meminta
bibi saya untuk memakamkan jenazahnya segera. Saya juga meminta pada beliau
untuk menelepon suami saya bahwa saya sudah melahirkan dan bayinya meninggal.
Karena ibu saya sudah mendesak saya untuk cepat-cepat pulang dan ingin
menemaniku melahirkan akhirnya saya pulang dengan keyakinan bahwa saya bisa
meyakinkan ibu saya.
“Setelah saya sampai di gang rumah tinggal
bibi saya, beliau turun dari bis. Saya pulang sendiri meskipun agak
berbahaya karena hari sudah larut. Di tengah jalan saya mendapati sebuah rumah
yang ramai. Setelah saya tengok ada sebuah tragedy pembunuhan. Saya melihat
seorang bayi tergeletak di lantai bawah tempat tidur. Saya mengambilnya sesaat
setelah para pembunuh itu menyeret jenazah korbannya. Mungkin mereka tidak tahu
akan adanya bayi itu. Lalu saya membawa bayi itu pulang kerumah sebelum
pembunuh itu kembali. Setelah itu saya tidak ingat lagi.”
“ Kenapa kalaupun anda tidak membunuh anda menggigil dan
ketakutan?.”
“ Sebenarnya saya menderita lemah jantung. Namun, saya
yakin semua perempuan akan shock bila dihadapkan pada masalah seperti yang saya
alami. Setelah saya mengambil anak itu, ada lelaki yang datang, mungkin untuk
membersihkan barang bukti,tapi anak itu malah
menangis. Dan Alhamdulillah saya diselamatkan Allah
karena orang itu tidak menemukan tempat saya sembunyi.”
“ Lantas? Bukan seharusnya anda ketahuan orang itu karena
bayi itu menangis.”
“ Karena kebetulan saya belum lama melahirkan, jadi bayi
itu saya beri ASI. Dan saya juga mengambil sobekan foto orang tuanya dan ada
pisau yang yang mungkin digunakan pelaku untuk membunuh. Ini buktinya.” Rana
mengeluarkan pisau dan potongan foto tersebut. “ Mungkin setelah ini, saya akan
menyerahkan anak itu pada bapaknya.”
“ Di pisau ini tertulis nama Andre. Anda kenal siapa
dia?”
“ Maaf pak, saya kenal siapa Andre.”
“ Bibi datang? Siapa yang mengabari?”
“ Tenang anakku. Kami semua hadir untuk mu.” Semua
keluarganya dan beberapa warga hadir. Begitu senangnya Rana, bagai tersiram air
hujan setelah lama kering bersama kemarau.
“ Bi, pak parman datang?” Wajahnya sumringah. “ Pak
Parman, anak anda akan saya kembalikan nanti.” Pak Parman hanya tersenyum
sinis.
“ Tenang dulu Rana.” Rana diminta duduk oleh Bu Rahayu“
Bolehkah saya menjadi saksi pak hakim?”
“ Baik, Silahkan.”
“ Saya Rahayu pembantu Zahrana. Tentang cerita bayi Rana
yang ia lahirkan, memang benar saya yang menguburkan. Tapi bukan di bawah lantai
rumah pak Bandi dan bu Linda. Saya sudah menguburkannya bersama
tetangga-tetangga lain didesa saat kami masih di Kalimantan. Mengenai perkara
ini, sayalah yang paling tahu. Bayi yang dikubur di bawah rumah itu adalah bayi
bu Linda. Pada saat saya pulang ke jawa bersama Rana, saya di sms bu Linda
bahwa dia sudah melahirkan anak kembar. Jadi anaknya yang satu meninggal dan
yang satu digendong oleh ibunya Rana itu.”
“ Lho bi, dalam foto itu, bukannya pak Parman itu ayahnya
si bayi?”
” Sabarlah dulu nak, dengar penjelasan bibi dulu.”
“ Bagaimana anda bisa mengenal korban?” Hakim memotong
pembicaraan Rana dan bu Rahayu.
“ Sebetulnya saya sudah lama tinggal didesa tempat Rana
tinggal. Karena orang tua saya pindah jadi saya juga ikut pindah. Saat saya
masih tinggal didesa itu, saya berteman baik dengan Linda. Sampai saya
pindahpun, kita masih berhubungan. Dan mengenai peristiwa itu, saya juga tau
betul bagaimana peristiwa itu terjadi. Mungkin Rana menyangka saya sudah turun
dari bis. Padahal saya tidak jadi turun, saat itu saya menerima sms dari Linda
untuk menjenguknya. Ya saya pikir sekalian saja malam itu, sekaligus memastikan
Rana sampai dengan selamat.
“ Malam itu, saya ingin langsung mengantar Rana sampai
rumah meskipun Rana tidak tahu bahwa saya mengikutinya. Ditengah jalan
tiba-tiba hujan turun, Rana mampir disamping rumah Linda untuk berteduh. Rana
tidak mungkin melanjutkan untuk pulang karena jarak rumah ke rumah sangat
berjauhan. Saya hanya mengamati dari jauh. Lalu terdengar samar teriakan dari
dalam rumah Linda. Tidak begitu kencang memang karena hujan semakin lebat.
Mungkin Rana juga mendengar teriakan itu. Rana langsung memasuki rumah Linda.
Saya mendekati rumah Linda. Saya tidak berani masuk, hanya mengamati dari
jendela yang terbuka. Linda dan keluarganya sudah tidak bernyawa. Setelah hujan
reda dan saya melihat bahwa Rana sudah keluar saya juga kembali ke rumah saya
karena saya mendapat sms bahwa ibu saya mendadak dibawa ke rumah sakit.
“ Mengenai foto dan pisau itu, em… foto itu bukan ayah
sang bayi. Namun, itu foto Linda dan Andre yang memiliki pisau itu.” Sekilas
pak Parman meninggalkan ruang sidang. Bergegas Rahayu menahannya. “ Tolong pak
Polisi, tahan dia sebentar sampai saya selesai memberi penjelasan.” Polisipun
menahan pak Parman. Suasana hampir riuh kemudian tenang kembali.
“ Dulu saat saya SMA, Linda dan Andre saling suka. Saya tahu sendiri peristiwa
itu. Namun, setelah lulus SMA kenyataannya lain. Linda memutuskan untuk menikah dengan Bandi. Saya
juga pernah mendengar rencana Andre ingin merebut Linda, tetapi mungkin sekarang
rencananya sudah berubah. Andre malah membunuh keluarga itu, mungkin karena
kecewa rumah tangga Linda semakin bahagia berkat kehadiran buah hati mereka.
“ Maaf saya terlambat memberikan keterangan. Sebenarnya saya
sudah memasrahkan kesaksian pada suami Rana karena ibu saya meninggal saat
persidangan kedua kasus ini. Namun, tak disangka perkaranya semakin rumit. Maaf
ya Rana.” Setengah berbisik Rahayu menyampaikan pesan itu pada Rana yang duduk
disampingnya.
“ Saudari saksi tadi bilang bahwa anda kenal siapa Andre.
Bisa mengatakan lebih lanjut siapa Andre sebenarnya?”
“ Baik pak, Andre itulah pelaku sebenarnya. Andre
Esparman. Orang yang saya minta untuk ditahan tadi.”
“
Mengapa Anda jadi menuduh saya?” pak Parman memberontak.
“
Maaf saudara, saya tidak mengatakan asal. Saya sempat mengabadikan perilaku
biadab Anda. Di Hp ini dan saya sudah memindahkannya ke dalam laptop. Silahkan
pak Hakim memeriksanya sendiri.”
Selang
beberapa lama para hakim berdiskusi, hakim yang berada di tengah angkat bicara.
“ Berdasarkan bukti, kami memutuskan untuk memeriksa saudara Andre Esparman
lebih lanjut. Dan kami juga memutuskan membebaskan saudari Arista Putri
Zahrana.” Palu telah di ketok. Zahrana langsung sujud syukur. Setelah bangkit
dia mendapati Irsyad berada di sampingnya.
“
Rana, bolehkah aku menggam tanganmu untuk meredam ketakutanmu?” Irsyad
berbicara lembut sekali.
“
Tapi mas…”
“
Maukah kita rujuk kembali ya habibati?” Rana memberikan tangannya sebagai tanda
bahwa ia mau rujuk. Irsyad langsung mengecup dahi istrinya. Dan memeluk erat
Zahrana.
Semua
warga berhamburan maju ke depan untuk meminta maaf pada Zahrana.
*****
“
Rana, Linda sudah tidak mempunyai keluaga lagi. Jadi jaga dan rawat bayi itu
baik-baik ya!”
“
Baik bi. Saya akan meminta pendapat mas Irsyad dulu, dan asalkan bibi mau
membantu saya jika kita sudah kembali ke Kalimantan lagi.”
“
Insya Allah ya nak.”
Keluarga
besar Rana berkumpul di luar bersama ibu Rahayu untuk sekedar berbincang
bincang. Sementara Zahrana, Aida dan Irsyad masuk ke kamar.
Zahrana
tampak begitu segar selepas mandi dan keramas. “ Ya habibati, anti begitu
cantik dengan gamis itu. Maafkan abi ya, sudah menghianatimu.”
“
Apa Mas? Abi?”
“
Bukankah aku ini sudah menjadi ayah dari bayi ini?”
“
Aku pikir mas tidak menyetujui hal ini. Ya, walaupun awalnya mas diam saja
waktu aku memberi ASI pada Aida dan aku pikir mas setuju. Setelah aku tahu
pernyataan mas di pengadilan dulu aku jadi tahu kalau mas tidak setuju. Maafkan
aku ya mas, telah membuatmu kecewa. Aku tidak meminta izin dulu untuk memberi
Aida ASI. Aku takut mas kalau aku dibenci Allah karena hal ini.”
“
Sejak kamu memberi ASI di hadapanku dulu, secara tersirat aku sudah menyetujui.
Namun, saat malam hari pertama kamu membawa bayi itu dan saya tahu lewat
pernyataanmu bahwa kamu memberi Aida ASI tanpa sepengetahuanku, jujur aku
sangat marah padamu. Tetapi aku bisa memaklumi karena aku tahu kamu melakukan
itu dengan terpaksa dan dengan ASI darimulah Allah menyelamatkan nyawamu dan
nyawa bayi ini.
“
Aku minta maaf ya sayang pernah tidak mempercayaimu dan hampir membunuhmu.
Padahal kamu adalah istri yang baik. Terus mengapa kamu bisa disidang? Apa yang
kamu katakan pada para polisi itu?”
“
Ya, dulu aku langsung saja ngomong kalau aku salah karena mengambil bayi itu,
tapi aku tidak tahu kalau masalahnya sampai kasus pembunuhan itu. Ya… biarlah
jadi pelajaran yang berharga. Aku cukup bahagia karena Allah telah menunjukkan
cinta dan kasih-Nya pada hamba-hamba-Nya. Ayo mas keluar. Ikut ngobrol dengan
yang lain.”
“
Beri ASI dulu anak ini. Biar dia tidur kemudian kita keluar. Sudah lama ia
tidak mendapat ASI. Eeem…Rana, karena namaku Muhammad Irsyad Syarifudin, anak
ini akan ku beri nama Nurul Aida Syarifudin. Bagaimana?”
Sambil
menyusui, Rana tersenyum sangat manis. Irsyad lalu mengecup kening istrinya. "Tapi, kelak dia harus tau, dia bukan anak kandung kita mas. Karena memang begitu kan seharusnya? Aku berharap, anak kita akan segera lahir dan mau bermain bersamanya." Irsyad hanya mengelus rambut istrinya yang terurai...
*** Happy ending full barokah ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar