Laman

Kamis, 28 Maret 2013

MALAM BERDARAH
by Nisa Ikhsan

“ Pak, semuanya sudah siap pak. Kapan jenazahnya akan datang?” suara dari seberang telepon itu terdengar jelas di persidangan yang tenang.
“ Sebentar lagi sepertinya. Tunggu saja Min! sekarang masih ada di rumah sakit, mungkin 10 menit lagi diberangkatkan dari sana.” Pak lurahpun menutup teleponnya karena sidang akan di mulai.
Para warga yang mengikuti jalannya sidang duduk penuh kecaman. Dan yang ada didepan sana Arista Putri Zahrana, putri ta’mir masjid agung Wonosari. Mereka semakin membenci orang yang berkerudung, karena Rana berkerudung besar dengan memakai kaus kaki pakaiannya juga sangat longgar. Sangat tidak umum seperti mereka memang. Berbagai macam ejekan terlontarkan oleh para warga. Ada yang menuduh bahwa kerudung besarnya hanya untuk menutupi kejelekannya. Ada yang memperolokkan bapaknya yang ahli agama itu tidak bisa mendidik anak. Masih banyak lagi hujatan yang Rana terima. Keluarganya hanya menunduk di kursi paling depan.
“ Tolong tenang dulu warga sekalian. Sidang akan segera dimulai.” Pak lurah mulai angkat bicara.
Semuanyapun tenang. Neni, tetangga dekat Rana menjawab pertanyaan hakim dengan tegas. “ Disini saya mengatakan yang saya tahu saja. Meskipun saya teman dekat terdakwa dari kecil, tetapi saya lebih memilih mengatakan yang sebenar-benarnya. Yang saya tahu Rana baru datang ke desa kami kemarin saat kejadian. Awalnya Rana dan kami para warga biasa saja. Hanya agak heran melihat pak Parman salah satu tokoh masyarakat desa kami mencegah untuk dibongkarnya rumah yang berada sebelah jalan tersebut. Padahal pak Lurah sudah diberi izin pemilik tanah untuk dijadikan jalan raya. Kata pemiliknya biar yang punya rumah menggeser rumahnya agak ke belakang pekarangan. Toh tanah itu bukan milik pak Bandi orang yang punya rumah itu.
Setelah itu, warga nekat membongkar rumah itu. Meskipun dengan berbagai pertimbangan, pak Parman sebagai orang yang dihormati warga berujar untuk menunggu yang punya rumah dulu. Dan ternyata ditemukan beberapa jenazah di bawah lantai rumah itu. Secara sepintas mereka adalah keluarga pak Bandi yang mana salah satu jenazahnya adalah seorang bayi yang masih sangat kecil. Yang diketahui para warga, pak Bandi belum mempunyai anak meskipun istrinya sedang hamil. Ya, kami pikir bayi itu dibunuh setelah dilahirkan. Namun, Arista Nadya Syahputri,kakak Rana malah bertanya setengah berteriak pada Rana dimana bayi Rana dikuburkan. Kami tidak tahu apa yang dia maksud. Dan Rana langsung terlihat Shock dan pingsan. Akhirnya para warga menuduh Rana sebagai pelaku pembunuhan keluarga itu. Itu saja, terimakasih.” Hati Rana teriris, bagaimana bisa warga menuduhnya sebagai pembunuh.
Kemudian semua mata tertuju pada Irsyad. Termasuk Rana yang menatap penuh harap untuk diberi simpati dari suami yang baru menikahinya satu setengah tahun yang lalu itu. “ Saya tidak tahu persis masalah ini. Seminggu yang lalu saya berada di makasar. Ketika itu saya ditelepon pembantu saya bahwa Rana sudah melahirkan, tetapi bayinya meninggal. Katanya, Rana berpesan untuk tidak memberitahukan pada siapa-siapa dulu terutama Ibu. Dia baru memberi tahu kakak perempuannya katanya. Dia takut nanti Ibu malah sakit karena Ibu memang menderita gejala stroke.
Terlepas dari itu, katanya pembantu saya akan memakamkan anak itu bersama rekan ngaji sekaligus tetangga saya di Kalimantan sana. Katanya Rana juga berpesan untuk tidak usah pulang jika keadaan tidak memungkinkan. Rana akan ke jawa saja, dan saat saya sudah tidak ada kerjaan, saya diminta menyusulnya. Tiga hari yang lalu saya di sms Rana kalau dia sudah sampai Bandara dan sedang perjalanan dari Yogya. Ternyata saya sampai duluan. Setelah tengah malam, Rana baru datang dengan tubuh menggigil dengan membawa seorang bayi. Pembantu kami tidak ikut karena pulang ke desanya yang berjarak sekitar 50 km dari sini. Dalam keadaan seperti itu Rana saya tanyai kenapa dia menggigil dan siapa bayi itu. Saya tetap memaksa dia menjawab karena dikatakan bahwa bayi yang dulu dia kandung telah meninggal. Namun, Rana tiba-tiba tidak sadarkan diri selama 2 hari. Setelah siuman saya tidak berani bertanya lagi. Dan ibu sudah terlanjur menganggap bahwa bayi itu cucunya. Rana juga tidak segan memberikan asinya pada bayi itu.
Pada saat ada penggusuran rumah itu Rana tiba-tiba kembali menggigil saat melihat ada jenazah-jenazah itu. Saya semakin tidak mempercayai istri saya saat terlontar pertanyaan dari kak Nadya seperti yang dikatakan saudari saksi tadi. Kemudian, Rana kembali tidak sadarkan diri. Hanya itu yang saya tahu.” Irsyad tidak sedikitpun menoleh pada istrinya. Sepertinya ia sudah teramat benci dengannya. Semua warga  bahkan suaminya sendiri sudah tidak mempercayainya. Air mata Rana pun meleleh. Kemudian semuanya menjadi gelap dan Rana pingsan.
“Baiklah, sidang kita lanjutkan minggu depan dengan pembantu saudara irsyad sebagai saksi. Saya mohon bantuan saudara Irsyad untuk menghadirkan saksi.” Sidang terpaksa ditunda.
********
Setelah Rana sembuh, dia ditahan dan anaknya di asuh oleh ibunya. Setiap malam ia terbangun memohon pada Allah untuk dimudahkan urusannya. Dia memutuskan untuk tegar dan menjaga dirinya agar tidak mudah shock. Meskipun dia hanya sendiri. Meskipun orang-orang di luar sana tidak lagi mempercayainya. Dia merasa Allah tetap sayang padanya meskipun banyak kesalahan yang ia perbuat.
Lima hari sudah ia lewati waktu dibalik jeruji besi yang dingin dengan penuh keangkuhan itu. Matanya merah karena sering menangis dan tidak dapat tidur di tempat yang over kapasitas. Apalagi rasa sakit sehabis melahirkan dulu masih terasa. Sangat miris ketika tak satupun anggota keluarganya datang. Hanya pembantunya yang satu kali pernah menjenguknya dan mendengar cerita dari Zahrana. “ Bi, besok hadir ya. Kasih tahu cerita yang sebenarnya.”
“Iya mbak, Insya Allah. Bibi, juga turut prihatin. Yang tabah ya mbak. Jangan pernah takut untuk menegakkan kebenaran. Jangan takut jika memang mbak Rana merasa benar.”
“Makasih ya bi.” Rana mengusap air mata dan kembali ke tempat yang mengerikan itu. Namun, dia masih bersyukur pernah bertemu pembantunya itu, dan masih diperbolehkan mengenakan jilbab panjangnya.
Waktu seakan semakin bergulir menjauh. Besok adalah hari penentuan akan dikemanakan ia. Apakah akan pulang ke rumah berkumpul dengan keluarga ataukah kembali bersama para tangan kanan setan di balik deretan besi dingin. Namun yang pasti dia ingin selalu bersama Allah. Andaikan waktu dapat diputar ulang, yang mana ia tidak mengambil bayi orang lain dan anaknya tidak meninggal. Pastilah tidak akan seperti ini kejadiannya. Namun, hal itu telah terlanjur. Ia sekarang harus berjuang mengembalikan  nama baik keluarganya. Meskipun dengan banyak air mata yang akan terkuras.
Kamu hendaknya bersyukur masih diberikan cobaan dari Allah. Berarti Allah masih sayang padamu Na. Jangan pernah menghayal dan mengandai-andai Na. hal itu hanya akan membuatmu lemah dan menandakan bahwa kamu takabur dan tidak pernah bersyukur. Ujar wanita muda itu dalam hati. Meski sekarang terlihat lusuh dan agak menua. Sedikit mengurangi beban dihatinya.
Esok harinya wajahnya lebih cerah karena akan bertemu dengan keluarganya yang dia cintai. Orang tuanya hadir bersama sang anak. Kakak dan suaminya pun ikut menghadiri. Namun wajah mereka tak secerah Rana. Ia dekati keluarganya dan ia berkata pada suaminya dengan halus. “ Terima kasih ya mas sudah hadir.” Tersungging senyum di mulut keringnya.
“ Tenang saja Rana, saya akan membantu kamu membersihkan nama baik keluargamu terutama orang tuamu, karena mereka sudah ku anggap sebagai orang tua kandung ku sendiri. Saya hanya menemani mereka. Setelah mereka baik-baik saja, saya akan segera pergi kok.” Jawab Irsyad ketus. Benar-benar mencacah hati. Suaminya bahkan ingin dia lenyap dari muka bumi. Air matanya meleleh dan ia pergi ke tempatnya. Sidang pun mulai berjalan.
“ Baik saudara Irsyad. Apakah anda mengetahui lebih lanjut tentang perkara ini? Adakah keterkaitan kejadian ini dengan orang tua tersangka?” hakim mulai menanyai saksi.
“ Tidak pak Hakim. Jangan mengaitkan kejadian ini dengan orang tua tersangka. Mereka tidak tahu menahu tentang hal ini. Dan masing-masing orang harusnyalah menanggung sendiri-sendiri apa yang diperbuat. Disini saya hanya membawa barang bukti baju yang istri saya kenakan saat ia pulang pada malam hari itu. Mungkin ini adalah bukti yang cukup menguatkan. Dan maaf, pembantu saya tidak dapat hadir karena sakit, dia bilang cukup saya yang menjadi saksi.” Dia lalu menunjukkan baju yang berlumuran darah yang mana darahnya sudah mengering itu. Rana sangat terkejut dan sesak memenuhi seluruh ruang hatinya.
“ Baiklah saudara tersangka. Apakah anda hendak memberi pembelaan?”
 “ Maaf pak, saya tidak bisa mengatakan apapun.” Tangisnya tertahan di tenggorokan. Dia sudah tak mampu mengatakan apapun.
“ Baiklah. Diputuskan bahwa saudari Arista Putri Zahrana bersalah. Terdakwa di jatuhi hukuman mati karena telah menghilangkan nyawa banyak orang. Eksekusi akan dijalankan 13 hari lagi.” Palupun diketok. Tidak ada yang bisa memungkirinya. Para warga yang hadir bersorak.

******
Ditengah malam yang begitu sunyi dia sudah di dobrak para polisi. Hari ini adalah hari dia akan dieksekusi mati. Ya, hal itu masih lebih sopan dari pada perlakuan yang ia terima hari hari sebelumnya yang hampir merenggut kesuciannya. Untungnya dia pernah berlatih ilmu bela diri. Meskipun hari meninggalnya lebih istimewa dibanding dengan manusia lainnya karena kematiannya ditentukan oleh manusia, dia masih bersyukur hijabnya masih terjaga. Walaupun ia dianggap hina, namun ia ingin mati dalam keadaan suci.
“ Apa permintaan terakhirmu sebelum pukul lima nanti?” salah satu polisi berkata dingin.
“ Apakah masih ada harapan untuk dipenuhinya permintaan saya.” Jawab Rana tak bersemangat.
“ Mungkin saja.”
“ Baiklah, antar saya kerumah. Saya ingin sungkem sama orang tua saya. Dan saya akan menunjukkan sesuatu pada kalian semua. Dan saya membolehkan banyak polisi mengawal saya agar tidak kabur, tetapi saya tidak memperbolehkan kalian menyentuhku.”
“ Akan kami pertimbangkan.”
“ Saya ingin segera dilaksanakan. Dan harusnya sekarang.”
Akhirnya dengan berbagai pertimbangan mereka setuju untuk mengantarkannya kerumah orang tuanya. Sampai tempat yang dituju sudah adzan subuh. Setelah diperkenankan masuk oleh Irsyad meskipun didahului dengan pertentangan terlebih dahulu akhirnya Rana meminta izin untuk shalat subuh. “Mas, saya ingin, mungkin untuk yang terakhir kalinya untuk shalat berjamaah dengan mas. Saya berharap mas tidak menolaknya.” Irsyad hanya mengangguk. Rana mengikuti Irsyad sampai ke tempat wudhu. Diikuti beberapa polwan yang mengawalnya.
Ketika Rana hendak membuka kerudung untuk berwudhu suaminya berkata. “ Rana.”
“ Iya suamiku.”
“ Jangan membuka kerudung disini. Kamu bukan mahramku sekarang. Kamu sudah kutalak.” Rana berlari ke kamar mandi untuk berwudhu. Matanya merah dan meneteskan air mata.
Mereka berdua telah menunaikan shalat subuh. Sudah lama mereka tidak berjamaah. Satu lagi yang berbeda dia tidak lagi mencium tangan irsyad karena dia bukan lagi istrinya. Setelah sungkeman pada orang tuanya dia mengambil tas di almarinya. Tas kecil berwarna hijau tua yang dibelikan mantan suaminya dengan gaji pertama mantan suaminya itu.
“ Baiklah, saya akan segera pergi. Jaga diri kalian baik-baik ya. Jaga pula Aida dengan baik meskipun dia bukan anak saya.” Rana mencium anak yang baru memiliki nama baru itu. Aida, tangguh. Dengan harapan anak itu akan kuat menghadapi segala cobaan. Ya dia sudah menjadi anak susunya karena dia sudah memberikan asinya lebih dari 3 kali hingga anak itu kenyang. Semua orang di rumah itu meneteskan air mata.
Diperjalanan kembali ke tempat eksekusi Rana berbicara pada polwan di sampinya. “Bu, pokoknya saya harus mengajukan banding. Saya akan membawa ini sebagai bukti.”
“ Hal ini susah anak muda. Kenapa sebelum ditetapkannya hukuman anda tidak meminta banding?”
“ Saya terlalu terpukul dengan sikap keluarga saya pada saya.”
“ Tapi, dalam waktu 12 hari itu kenapa juga tidak meminta banding? Malah akan dilaksanakannya hukuman, anda baru memintanya.”
“ Saya kira tidak ada lagi kesempatan untuk saya. Tolonglah bu, kalau bisa nanti dimulai sidangnya. Ini menyangkut hidup dan mati saya dan nama baik berbagai pihak karena saya tahu berita ini sudah menyebar keman-mana.”
“ Baiklah, saya akan meminta suami saya untuk menggelar persidangan lagi untuk anda nanti siang.”
“Terima kasih bu.” Hatinya bertasbih menyucikan nama Allah.
*****
“ Silahkan saudari Arista Putri Zahrana jika ingin menyampaikan pembelaannya.” Hakim itupun akhirnya memberi kesempatan pada Rana. Sepi orang memang, karena tidak ada yang tahu ada persidangan itu. Hanya beberapa wartawan hadir.
“ Disini saya tidak ingin membela diri saya. Hanya ingin meluruskan salah paham ini. Saya ingin memperbaiki nama baik orang islam dan orang tua saya. Sebenarnya memang benar seperti yang diceritakan suami saya bahwa saya melahirkan beberapa hari yang lalu di Kalimantan. Saya sudah meminta bibi saya untuk memakamkan jenazahnya segera. Saya juga meminta pada beliau untuk menelepon suami saya bahwa saya sudah melahirkan dan bayinya meninggal. Karena ibu saya sudah mendesak saya untuk cepat-cepat pulang dan ingin menemaniku melahirkan akhirnya saya pulang dengan keyakinan bahwa saya bisa meyakinkan ibu saya.
“Setelah saya sampai di gang rumah tinggal bibi saya, beliau turun dari bis. Saya pulang sendiri meskipun agak berbahaya karena hari sudah larut. Di tengah jalan saya mendapati sebuah rumah yang ramai. Setelah saya tengok ada sebuah tragedy pembunuhan. Saya melihat seorang bayi tergeletak di lantai bawah tempat tidur. Saya mengambilnya sesaat setelah para pembunuh itu menyeret jenazah korbannya. Mungkin mereka tidak tahu akan adanya bayi itu. Lalu saya membawa bayi itu pulang kerumah sebelum pembunuh itu kembali. Setelah itu saya tidak ingat lagi.”
“ Kenapa kalaupun anda tidak membunuh anda menggigil dan ketakutan?.”
“ Sebenarnya saya menderita lemah jantung. Namun, saya yakin semua perempuan akan shock bila dihadapkan pada masalah seperti yang saya alami. Setelah saya mengambil anak itu, ada lelaki yang datang, mungkin untuk membersihkan barang bukti,tapi anak itu malah menangis. Dan Alhamdulillah saya diselamatkan Allah karena orang itu tidak menemukan tempat saya sembunyi.”
“ Lantas? Bukan seharusnya anda ketahuan orang itu karena bayi  itu menangis.”
“ Karena kebetulan saya belum lama melahirkan, jadi bayi itu saya beri ASI. Dan saya juga mengambil sobekan foto orang tuanya dan ada pisau yang yang mungkin digunakan pelaku untuk membunuh. Ini buktinya.” Rana mengeluarkan pisau dan potongan foto tersebut. “ Mungkin setelah ini, saya akan menyerahkan anak itu pada bapaknya.”
“ Di pisau ini tertulis nama Andre. Anda kenal siapa dia?”
“ Maaf pak, saya kenal siapa Andre.”
“ Bibi datang? Siapa yang mengabari?”
“ Tenang anakku. Kami semua hadir untuk mu.” Semua keluarganya dan beberapa warga hadir. Begitu senangnya Rana, bagai tersiram air hujan setelah lama kering bersama kemarau.
“ Bi, pak parman datang?” Wajahnya sumringah. “ Pak Parman, anak anda akan saya kembalikan nanti.” Pak Parman hanya tersenyum sinis.
“ Tenang dulu Rana.” Rana diminta duduk oleh Bu Rahayu“ Bolehkah saya menjadi saksi pak hakim?”
“ Baik, Silahkan.”
“ Saya Rahayu pembantu Zahrana. Tentang cerita bayi Rana yang ia lahirkan, memang benar saya yang menguburkan. Tapi bukan di bawah lantai rumah pak Bandi dan bu Linda. Saya sudah menguburkannya bersama tetangga-tetangga lain didesa saat kami masih di Kalimantan. Mengenai perkara ini, sayalah yang paling tahu. Bayi yang dikubur di bawah rumah itu adalah bayi bu Linda. Pada saat saya pulang ke jawa bersama Rana, saya di sms bu Linda bahwa dia sudah melahirkan anak kembar. Jadi anaknya yang satu meninggal dan yang satu digendong oleh ibunya Rana itu.”
“ Lho bi, dalam foto itu, bukannya pak Parman itu ayahnya si bayi?”
” Sabarlah dulu nak, dengar penjelasan bibi dulu.”
“ Bagaimana anda bisa mengenal korban?” Hakim memotong pembicaraan Rana dan bu Rahayu.
“ Sebetulnya saya sudah lama tinggal didesa tempat Rana tinggal. Karena orang tua saya pindah jadi saya juga ikut pindah. Saat saya masih tinggal didesa itu, saya berteman baik dengan Linda. Sampai saya pindahpun, kita masih berhubungan. Dan mengenai peristiwa itu, saya juga tau betul bagaimana peristiwa itu terjadi. Mungkin Rana menyangka saya sudah turun dari bis. Padahal saya tidak jadi turun, saat itu saya menerima sms dari Linda untuk menjenguknya. Ya saya pikir sekalian saja malam itu, sekaligus memastikan Rana sampai dengan selamat.
“ Malam itu, saya ingin langsung mengantar Rana sampai rumah meskipun Rana tidak tahu bahwa saya mengikutinya. Ditengah jalan tiba-tiba hujan turun, Rana mampir disamping rumah Linda untuk berteduh. Rana tidak mungkin melanjutkan untuk pulang karena jarak rumah ke rumah sangat berjauhan. Saya hanya mengamati dari jauh. Lalu terdengar samar teriakan dari dalam rumah Linda. Tidak begitu kencang memang karena hujan semakin lebat. Mungkin Rana juga mendengar teriakan itu. Rana langsung memasuki rumah Linda. Saya mendekati rumah Linda. Saya tidak berani masuk, hanya mengamati dari jendela yang terbuka. Linda dan keluarganya sudah tidak bernyawa. Setelah hujan reda dan saya melihat bahwa Rana sudah keluar saya juga kembali ke rumah saya karena saya mendapat sms bahwa ibu saya mendadak dibawa ke rumah sakit.
“ Mengenai foto dan pisau itu, em… foto itu bukan ayah sang bayi. Namun, itu foto Linda dan Andre yang memiliki pisau itu.” Sekilas pak Parman meninggalkan ruang sidang. Bergegas Rahayu menahannya. “ Tolong pak Polisi, tahan dia sebentar sampai saya selesai memberi penjelasan.” Polisipun menahan pak Parman. Suasana hampir riuh kemudian tenang kembali.
“ Dulu saat saya SMA, Linda dan Andre saling suka. Saya tahu sendiri peristiwa itu. Namun, setelah lulus SMA kenyataannya lain. Linda  memutuskan untuk menikah dengan Bandi. Saya juga pernah mendengar rencana Andre ingin merebut Linda, tetapi mungkin sekarang rencananya sudah berubah. Andre malah membunuh keluarga itu, mungkin karena kecewa rumah tangga Linda semakin bahagia berkat kehadiran buah hati mereka.
“ Maaf saya terlambat memberikan keterangan. Sebenarnya saya sudah memasrahkan kesaksian pada suami Rana karena ibu saya meninggal saat persidangan kedua kasus ini. Namun, tak disangka perkaranya semakin rumit. Maaf ya Rana.” Setengah berbisik Rahayu menyampaikan pesan itu pada Rana yang duduk disampingnya.
“ Saudari saksi tadi bilang bahwa anda kenal siapa Andre. Bisa mengatakan lebih lanjut siapa Andre sebenarnya?”
“ Baik pak, Andre itulah pelaku sebenarnya. Andre Esparman. Orang yang saya minta untuk ditahan tadi.”
“ Mengapa Anda jadi menuduh saya?” pak Parman memberontak.
“ Maaf saudara, saya tidak mengatakan asal. Saya sempat mengabadikan perilaku biadab Anda. Di Hp ini dan saya sudah memindahkannya ke dalam laptop. Silahkan pak Hakim memeriksanya sendiri.”
Selang beberapa lama para hakim berdiskusi, hakim yang berada di tengah angkat bicara. “ Berdasarkan bukti, kami memutuskan untuk memeriksa saudara Andre Esparman lebih lanjut. Dan kami juga memutuskan membebaskan saudari Arista Putri Zahrana.” Palu telah di ketok. Zahrana langsung sujud syukur. Setelah bangkit dia mendapati Irsyad berada di sampingnya.
“ Rana, bolehkah aku menggam tanganmu untuk meredam ketakutanmu?” Irsyad berbicara lembut sekali.
“ Tapi mas…”
“ Maukah kita rujuk kembali ya habibati?” Rana memberikan tangannya sebagai tanda bahwa ia mau rujuk. Irsyad langsung mengecup dahi istrinya. Dan memeluk erat Zahrana.
Semua warga berhamburan maju ke depan untuk meminta maaf pada Zahrana.
*****
“ Rana, Linda sudah tidak mempunyai keluaga lagi. Jadi jaga dan rawat bayi itu baik-baik ya!”
“ Baik bi. Saya akan meminta pendapat mas Irsyad dulu, dan asalkan bibi mau membantu saya jika kita sudah kembali ke Kalimantan lagi.”
“ Insya Allah ya nak.”
Keluarga besar Rana berkumpul di luar bersama ibu Rahayu untuk sekedar berbincang bincang. Sementara Zahrana, Aida dan Irsyad masuk ke kamar.
Zahrana tampak begitu segar selepas mandi dan keramas. “ Ya habibati, anti begitu cantik dengan gamis itu. Maafkan abi ya, sudah menghianatimu.”
“ Apa Mas? Abi?”
“ Bukankah aku ini sudah menjadi ayah dari bayi ini?”
“ Aku pikir mas tidak menyetujui hal ini. Ya, walaupun awalnya mas diam saja waktu aku memberi ASI pada Aida dan aku pikir mas setuju. Setelah aku tahu pernyataan mas di pengadilan dulu aku jadi tahu kalau mas tidak setuju. Maafkan aku ya mas, telah membuatmu kecewa. Aku tidak meminta izin dulu untuk memberi Aida ASI. Aku takut mas kalau aku dibenci Allah karena hal ini.”
“ Sejak kamu memberi ASI di hadapanku dulu, secara tersirat aku sudah menyetujui. Namun, saat malam hari pertama kamu membawa bayi itu dan saya tahu lewat pernyataanmu bahwa kamu memberi Aida ASI tanpa sepengetahuanku, jujur aku sangat marah padamu. Tetapi aku bisa memaklumi karena aku tahu kamu melakukan itu dengan terpaksa dan dengan ASI darimulah Allah menyelamatkan nyawamu dan nyawa bayi ini.
“ Aku minta maaf ya sayang pernah tidak mempercayaimu dan hampir membunuhmu. Padahal kamu adalah istri yang baik. Terus mengapa kamu bisa disidang? Apa yang kamu katakan pada para polisi itu?”
“ Ya, dulu aku langsung saja ngomong kalau aku salah karena mengambil bayi itu, tapi aku tidak tahu kalau masalahnya sampai kasus pembunuhan itu. Ya… biarlah jadi pelajaran yang berharga. Aku cukup bahagia karena Allah telah menunjukkan cinta dan kasih-Nya pada hamba-hamba-Nya. Ayo mas keluar. Ikut ngobrol dengan yang lain.”
“ Beri ASI dulu anak ini. Biar dia tidur kemudian kita keluar. Sudah lama ia tidak mendapat ASI. Eeem…Rana, karena namaku Muhammad Irsyad Syarifudin, anak ini akan ku beri nama Nurul Aida Syarifudin. Bagaimana?”
Sambil menyusui, Rana tersenyum sangat manis. Irsyad lalu mengecup kening istrinya. "Tapi, kelak dia harus tau, dia bukan anak kandung kita mas. Karena memang begitu kan seharusnya? Aku berharap, anak kita akan segera lahir dan mau bermain bersamanya." Irsyad hanya mengelus rambut istrinya yang terurai...

*** Happy ending full barokah ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar